Sedari awal

meadow

Sebaiknya kita tetap bertemu, aku takut kau menjadi lebih istimewa di dalam ingatanku.
Sebab kau duri, takkan tercabut tanpa rasa nyeri
Ketabahanku membencimu, haruskah kita menyebutnya cinta?
Kita pernah melewati tenang, di tengah riuh di bawah bulan
Aku adalah takdir yang memilukan
Satu-satunya yang hadir dalam kesepian
yang pergi karna serpih keraguan
Bagaimana kau akan mengerti, jika aku adalah kekasih yang ingin kau pungkiri
Sedari awal
Sebaiknya kita tetap bertemu, tak perlu ada yang terasa istimewa
Tak perlu ada duri yang tinggalkan nyeri
Tabah dalam luka dan benci
Menjadi lebih tenang meski berantakan
Menjalani takdir meski menyebalkan
Tetap bersama meski kesepian
Tetap diri sendiri meski diragukan
Ah, bagaimana mungkin bisa demikian, kita sudah terlalu sering berhadapan
Sedari awal
Aku ingin bertemu, menakhlukkan, mengistimewakan
Karena kamu nestapa euphoria
Slalu membara meski kepayahan
Memiringkan haluan demi sejalan
Mengorek takdir hingga ketahuan
masing-masing hadir bukan sebab kesepian
Aku mungkin pergi hanya oleh kematian
Bagaimana bisa kukatakan, kita sudah sering bicara tanpa bunyi, huruf dan diksi
Sedari awal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: