Bocah yang Tersinggung

Bu Muslimah, suru tulus dalam kisah nyata Laskar Pelangi. Sumber : kaskus.us

Jaman bocah dulu ada hal yang membuatku tersinggung. Sungguh-sungguh tersinggung. Seperti kebanyakan bocah yang melawan perintah, seringkali dianggap nakal daripada menyampaikan suatu pesan yang tak dapat ia ungkapkan dengan lugas.

Waktu itu guru agama meminta ikut lomba cerdas cermat Agama. Tentu saja bangga akhirnya dipilih mewakili sekolah. Namun kemudian guru tersebut dengan gegabah mengatakan sesuatu yang sangat mengecewakan seolah kami bebal dan tak punya harapan untuk menang di tingkat terendah sekalipun. Saat itu mental minder anak kampung selalu memberikan peringatan bahwa guru adalah orang terhormat yang tak semestinya ditolak, kecuali aku tentu saja, atau dia akan memberikan kesulitan bagimu.

Si guru agama meminta beberapa murid untuk mewakili cerdas cermat agama, hanya untuk memeriahkan saja katanya. Tidak menang tidak apa-apa yang penting meriah. Bukankah artinya berangkat saja tak usah susah payah berpikir apalagi siap-siap, dan guru juga tak perlu memberikan bimbingan apalagi tambahan toh para siswa ini hanya untuk memeriahkan saja dan tidak diharapkan untuk menang. Entah maksudnya apa tapi itulah yang saya tangkap.

Didorong oleh rasa tersinggung saya menolak untuk ikut lomba. Mendadak menjadi siswa ‘yang terbenci’ dari sebelumnya siswa ‘yang terpilih’. Bahkan soerang guru lain menyebut saya mbalelo yang artinya pembangkang. Tak ada yang mengerti penolakan saya waktu itu, dan saya sendiri menikmati rasa terhina itu seorang diri tanpa dimengerti, tanpa mampu menjelaskan. Menghadapi kritik nyaris dari semua pihak (kecuali ibu, beliau tidak berkomentar juga tidak bersikap memusuhi).

Kami adalah siswa kampung yang minim sarana. Beruntung SD tersebut ada di kampung saya, hanya berjarak sekitar 300 meter. Sedangkan beberapa siswa lain ada yang harus berangkat jalan kaki pukul 5.30 pagi supaya tiba di sekolah  sebelum jam 7 sehingga punya waktu istirahat sebelum pelajaran dimulai. Jarak dari sekolah ke tempat lomba sekitar 8 km atau sekitar dua jam jalan kaki.

Bahkan dari waktu itu sebagai seorang bocah saya berpikir bahwa energi kami semua tidak ada artinya buat para guru itu, perjalanan dari rumah ke sekolah dan 8 km jalan kaki dari sekolah ke lokasi lomba, semua hanya atas nama meriahnya lomba cerdas cermat.

Terasa betul perjuangan mereka adalah demi dapur yang mengepul, otak para siswa yang berputar bukanlah tujuan. Murid-murid yang menyedihkan, tinggal di pedalaman, kampungan, dan dijadikan badut-badutan.

Saat itu saya sampai dimarahi bapak karena sampai dikatakan mbalelo oleh seorang guru artinya saya sudah keteraluan, tapi saya tidak bisa menjelaskan rasa tersinggung itu, belum mengerti istilah ‘tidak dimanusiakan’.

Apa yang saya duga benar-benar terjadi. Para guru memilih siswa lain untuk dijadikan ‘korban’. Masih beberapa minggu untuk menjelang lomba, tapi mereka tidak melakukan apa-apa. Tidak ada kisi-kisi, tidak ada bimbingan, tidak ada persiapan transportasi. Benar-benar bertindak sebagai penggembira. Juga tidak ada kemenangan, toh sedari awal juga tidak diharapkan.

Terasa benar kepuasan diri saya, bahwa persangkaan buruk itu benar adanya. Tak selamanya guru itu untuk di gugu dan ditiru. Memang tidak semua bisa seperti Bu Muslimah guru dalam laskar pelangi, atau Great Teacher Onizuka, tidak mesti sesempurna itu, hanya saja jangan badutkan siswa atau jadikan mereka manekin bermesin. Seluruh siswa lebih baik dari itu semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: