Hari Ini : Cinta Adalah

Seberapa banyak seseorang mecintai pasangannya? Jika salah satu jelas-jelas mencintai dengan ketulusan luar biasa apakah yang satu dapat mengimbanginya, atau setidaknya sekedar peduli dan mengerti bukan cuma minta keinginannya dituruti. Orang bilang hubungan adalah sebuah tim. Orang yang terbiasa bertindak sendiri akan lebih sulit untuk berpatner dalam hubungan. Seseorang yang biasa mengambil keputusan cepat dengan mempertimbangkan hal pribadi harus menyesuaikan diri lagi dengan mepertimbangkan keberadaan orang lain. Orang yang banyak menghadapi mesin akan banyak merumuskan orang lain ke dalam keadaan matematis dan menyimpulkannya dalam sekejap.

Pada intinya hubungan adalah mutualisme (setelah pengamatan panjang dan melelahkan tapi tak pernah bosan), kenapa hubungan yang menurut banyak orang sangat payah malah terus berlanjut sedangkan hubungan yang sangat sempurna menyimpan keretakan yag mengkhawatirkan, lalu hubungan yang tanpa tujuan maupun tanpa ide-ide filosofi tak ada bedanya dengan yang diteorikan muluk-muluk seperti proposal skripsi.

Beberapa orang memang konsisten menjadi dirinya sendiri dengan kengototannya, ada pula yang konsisten ikut-ikutan pasangannya berapapun dia berganti pasangan, ada pula yang konsisten curhat sana sini tentang kekurangan pasangannya tapi ga mau berpisah. Ini beberapa contoh sifat pasangan dinilai dari caranya berdialog dengan :

Pasangan saling memahami :

“Yang aku mencintaimu setinggi himalaya.”

“Oh himalaya. 8800-an mdpl. Bisalah aku mengimbangi.”

“Yess!”

Pasangan penuntut :

“Yang cintaku padamu seluas samudera.”

“Mana buktinya?”

Pasangan apatis:

“I love you sebanyak pasir di pantai.”

“Dikiloin juga bakal abis.”

Pasangan skeptis :

“Aku cinta kamu selamanya.”

“Apa iya?” tanpa menoleh blas.

Pasangan posesif:

“Cuma aku kan yang bisa ngertiin kamu.”

“I love you,” antara akting dan ingin menyenagkan hati psangan.

Pasangan yang udah sama-sama bosan :

“Kamu masih mencintai aku?”

“Kamu ini tanya apa sih?” berusaha ngeles dari jawaban.

Pasangan yang mencium tanda-tanda orang ke tiga :

“Aku sayaaang banget sama kamu,” memeluk erat-erat.

Diam dengan sedikit rasa bersalah.

Pasangan egosentris :

“Ini semua aku lakukan buat kamu,” ngotot.

“Mana hasilnya?”

“Pokoknya kamu nurut aja sama aku.”

Pasangan cari aman :

“Aku nurut kamu aja yang.”

“Uuhhh….so sweet.”

Pasangan drama queen :

“Mana titipan aku?”

“Yah lupa.”

“Apa? Kamu dah ga cinta ya sama aku. sampe barang se penting itu lupa. kamu bisanya cuma nyakitin aku, ngecewain aku. Sama aja bunuh aku pelan-pelan………,” pokoknya lebay tingkat dewa mabuk.

Seorang temen bilang, ‘Cinta itu buat dijalani bukan diteorikan.” Ga salah, tapi ga sepenuhnya benar juga sih. Orang-orang yang hanya ingin berdampingan dengan cinta ya tidak butuh orang lain untuk mendefinisikannya. Sedangkan yang butuh cinta untuk di bisniskan bakal butuh referansi dan kalau perlu membuat standardisasi. membuat ukuranukuran tertentu bagaimana suatu hubungan bisa dibilang sukses.

kembali mengacu pada temanku bahwa cinta itu buat dijalani sendiri. Orang lain mungkin kriteria sukses tersendiri tapi yang sudah mencecapanya bakal punya orientasi sendiri. Karena cinta itu seperti rasa. Rasa itu subjektif maka si subjek sendiri yang mesti mengecap. Manis, asam, asin, nano-nano kau kau hanya akan paham itu jika menikmatinya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: