Bapak

 

Kenapa orang-orang menginjak masa tua cenderung oportunis? Karena mereka telah menelan asam garam dunia? Karena pernah ada kegagalan dalam hidup mereka? Karena mereka tahu bahwa kebanyakan orang lebih menghargai keberhasilan apapun caranya daripada prosesnya?

Aku masih belum tahu. Aku belum tua, dan sedari awal terpesona dengan idealaisme, cenderung menyendiri dan berbeda pemikiran dari trend. Hingga usiaku seperempat abad aku masi bisa bermanja dennga idealisme. toh aku bukan satu-satunya orang yang digemp

ur makian dan celoteh nyinyir. Bukan satu-satunya orang yang terseok dalam individualitas pemahaman, yang mejadikan konformitas mayarakat berada di luar dirinya.

Mungkin berbeda dengan bapak yang sudah setengah abad. Tidak seperti kebanyakan orang, bapak menolak ide-ide korupsi tapi menganggap cara-cara suap sebagai hal ynag lazim.

Sejak dulu beliau menolak serangan fajar dalam pemilu, uang pemenangan calon tertentu, juga sering mengkritik bunga pinjaman koperasi desa yang seringkali ‘tidak wajar’ atau dihitung dengan bunga tak seimbang. Pada lain sisi, beliau rela menyediakan uang untuk memasukkan kakaku ke kepolisian meskipun beliau tahu itu adalah suap

. Beliau juga menerima upah dari pegawai pendampingan desa untuk membuat laporan proyek percontohan lahan pertanian, setelah si penyuruh mengakui bahwa ia telah mengambil 40% dari total dana pembuatan laporan tanpa melakukan apa-apa.

Beliau ingin keluarga dan anak-anaknya makan makanan sehalal mungkin, meski tak mungkin 100%.

“Kalo emang umumnya gitu ya lakukan,” aku tercengang lalu diam setelah bapak bicara demikian.

Kelulusan menjadi tekanan yang sengit selama di rumah, kemudian beliau mulai membanding-bandingkan denga

n beberapa temanku yang beliau kenal. Demi membela diri kubocorkan rahasia beberapa orang mengenai cara mereka menyelesaikan skripsinya, tapi bapak malah mencetuskan kalimat itu.

Tidak lulus-lulus lebih memalukan daripada menyuruh orang lain menyelesaikan skripsimu, itulah yang kucerna dari kata-kata bapak. Kejadian semacam itu bukan aku sendirian yang mengalami. Bahkan bayak orang tua lain yang menawarkan dana tak terbatas untuk biro skripsi yang mampu dan mau membuatkan tugas akhir anaknya secara berkualitas dan meyakinkan.

Aku masih tak terima diperlakukan seperti ini. Aku terpojok oleh situasi ini, antara tuntutan bapak dan keinginanku untuk membuatnya sesuai dengan hasrat primitifku. Aku masih belum mengharap bantuan apapun.  masih mencoba mengukur kelemahan diri sebelum akhirnya benar-benar meminta bantuan.

Terngiang kata-kata kakak tingkat, “Skripsi itu ga ada hubungannya sama masa depan, tapi tentang kepuasan.” Tampak sekali bahawa ia kurang puas dengan skrisinya karena sebagian memang dikarang sepaya sesuai hipotesis.

Mungkin bapak lelah dengan segala pembiayaannya, juga kebergantungnaku secara finansial akhirnya beliau tak peduli apa itu originalis, kepuasan, idelaisme, dan sebagainya. Akhirnya aku pun bilang terserah kalian yang tidak peduli itu karya sendiri, karya orang lain ataupun karya berjamaah, toh di ijazah tertulis namamu, pada akhirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: