Ibu

Dua setengah hari di rumah, mencoba mengamati segala hal dengan seksama. Penulis yang baik mestinya adalah engamat yang baik. Juga pendengar yang peka. meskipun kedua hal itu belum aku kuasai.

Pengamat yang baik mesti mengesampingkan hal-hal subjektif dari pengamatannya untuk mendapatkan hal seperti apa adanya dan mengungkapakannya lag tanpa subjektifitas berlebihan. Sedangkan pendengar yang baik mestilah lebih banyak menggunakan telinga daripada mulut, itu juga masih sulit karena saya biasa bicara dengan kekuatan penuh meskiun pada gilirannya saya juga mendengarkan dengan kekuatan tapi porsi antara mandengar dan bicara masih terlalu imbang. Pada gilirannya seseorang mesti menyadri betul kapan waktunya bicara saja, mendengar ataupun bertindak.

Kembali pada pengamatan, saya mendapati bahwa rumah itu masih berdebu meski tak se tebal dahulu. Seiring dengan menurunnya omset usaha Ibu. Sebenarnya ini menunjukkan bahwa ibu adalah orang yang rajin meskipun tidak efisien. Beliau mengerjakan apa yang bisa dikerjakan tanpa skala prioritas sama sekali dan tanpa target. itulah mengapa selama ini banyak hal lebih penting yang terabaikan.

Kini, seelah belajar psikologi saya melihatnya laksana pohon kekar yang berusaha berdiri dengan beban mahkota yang sangat besar dan rapat. meski batangnya kuat tapi daunnya tetaplah masih terlalu rimbun untuk ukuran batangnya. Dalam diamnya beliau punya begitu banyak ambisi jangka panjang dan cenderung mengesampingkan masa kini.

Sekarang saat omset usahanya semakin turun sedikit demi sedikit tampak beliau berusaha untuk efisien. Masih belum berhasil. Segunung gengsi masih menahan langkahnya. beruntung Bapak sering ‘mengerjai’ sehingga sedikit banyak beliau telah berubah.

Ibu adalah wanita merdeka, tak ada yang menekannya selain pikirannya sendiri. Meskipun bapak sering menegur tentang koleksi pancinya atau tumpukan pakaian ‘tak bergunanya’ bapak tidak pernah melakukan tindakan ekstrem. Aku dan bapak sama-sama tak tahu mau diapakan koleksi panci itu, juga pakainnya tak ernah dipakai yang tak juga boleh disingkirkan.

Setengah abad lebih ibu menghirup udara bumi, dan aku tak pernah percaya bahwa beliau berusia setengah abad tapi pakaian usang di lemarinya beberapa telah berusia puluhan tahun tanpa pernah dipakai sekalipun menunjukkan bahwa beliau telah jauh beranjak dari usia 30an saat baju-bajunya masih tren hingga sekarang warnanya menunjukkan usianya.

Mungkin aku telah tertipu ingatanku sendiri. Dalam pandanganku sosok beliau kini masih seperti ingatan pertamaku mungkin saat usiaku 3 atau 4 tahun. Meski itu tak mungkin. Wajahnya kini banyak flek hitamnya, dan beberapa ubah telah tampak.

Aahh ibuku…masih berusaha keras menapaki identitas dirinya. Menunjukkan padaku bahwa perjuangan identitas tidak berhenti saat menikah, saat punya anak, saat punya pekerjaan tetap, saat usia 30 atau bahkan 50.

Rumah itu memang selalu berdebu serajin apapun orang-orang berusaha membersihkannya. Ibuku semakin tua dan anak-anaknya semakin jauh saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: