Yudhistira (2)

Sepertinya semakin jauh saja dengannya, atau aku hanya berputar-putar saja di sekeliling tanpa tahu bahawa aku telah mengelilinginya.

Beberapa waktu terakhir aku jadi sungguh-sungguh tertekan. Mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah jadi tujuanku. Aku ingin kemanapun Yudhistira berada, tapi aku tak ingin kehilangan akarku demi dia.

Dia terlihat menggoda. Menari dan semakin menjadi-jadi, dan aku masih berpegang pada akar yang nyaris bukan akarku. Karena aku pun seperti tak pernah tumbuh. Tak membumi juga tak melangit. Seperti tunas yang masih hidup semata-mata karena bertemu lahan subur dan tidak diterpa angin dan badai.

Sebuah pencarian yang personal dan sarat dengan penilaian subjektif harus dijalani sendiri sepenuh hati. Dan sepenuh hati itu yang belum aku miliki. Yudhistira adalah semacam perjalanan rohani. Sebuah perjalanan rohani mestinya dimulai pada suatu titik kesadaran bahawa pemahaman rohani itu memang diperlukan dalam suatu kontek yang jelas.

Apakah aku siap menjadi sendiri yang berarti menjadi minoritas dan spesial, karena yang spesial itu kemungkinan tak mudah dijangkau oleh yang lain. Mereka yang tidak siap dengan perjalanan rohaninya boleh berada pada zona nyamannya selamanya.

Apakah aku sendiri siap? Yang dulu-dul juga belum terlaksana. Ahh…tapi setidaknya jangan terlalu buruk sangka pada diri sendiri. Itu bisa merusak segalanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: