Rencananya Rencana

Selama bertahun-tahun aku dihantui firasat buruk akan mati muda atau melupakan banyak hal dalam hidup. Perjalanan, percintaan, karya, dan segalanya, seolah itu akan hilang dari memoriku. Karenanya aku ingin berkarya, membuat sesuatu yang bisa melanjutkan kehidupannya sendiri, semacam anak.

Untuk menghasilkan anak manusia tentu ada kekawatiran yang besar jika ternyata aku benar-benar mati muda. Bagaimana kasih sayangnya, pendidikannya, meskipun mestinya aku tak perlu merisaukan hal itu. Jika ibunya adalah adalah wanita yang mudah dikasihi karena dia juga pengasih maka sang anak akan medapat bagiannya. Jadi aku tinggal menjadi orang yang dikasihi -dan mengasihi tentu saja- aku tak perlu merisaukan anak-anakku.

Mendidik memang sebuah prestasi, hasilnya menggambarkan bagaimana kamu bertindak dulu. Tapi aku belum siap, benar-benar belum siap soal anak manusia ini.

Aku ingin suatu karya yang mandiri, yang setelah dilepas ia menemukan jalannya sendiri seperti anak-anak penyu yang baru menetas mereka menetas ramai-ramai dan kemudian mencari jalannya ke laut sendiri-sendiri. Bertarung sampai kapanpun atau malah mati sebelum bertarung karena ia tak pernah dilirik secara kualitas. Apapun bisa terjadi tapi setidaknya seseorang harus berpikir dan menghasilkan sesuatu jika tak ingin dibilang hidupnya mandul.

Dari firasat aku akan lupa banyak hal itulah aku punya keinginan merekam, mengabadikan segala hal yang kulalui dalam hidup. Andai aku benar-benar lupa rekaman itu akan menggantikanku bercerita dan menerangkan apa-apa yang pernah kulalui dalam hidup. Semoga tidak, tapi setiap orang mesti mengatisipasi firasat buruknya.

Untuk kehidupan yang menghasilkan maka harus dibuat sebuah rencana. rencana yang membawaku pada hasil yang diinginkan. Aku bukan ingin uang karena itu tak ada yang bisa memberiku, hanya diriku sendiri mesti mencurahkan daya untuk membuatnya.

Seberapa bak rencana yang kubuat maka sebaik itu aku bisa mencapainya. Jika rencana yang kubuat tak dapat dicapai maka itu menunjukkan bahwa aku adalah perencana yang buruk. Aku tak tahu diriku sendiri tak dapat mengukur diri, dan tak realistis terhadap diri sendiri, ibarat pohon yang yang bermahkota terlalu besar.

Rencana yang baik yang dibuat dengan pikiran yang terbuka dan realistis  semoga bisa membawaku kesana. Aku masih percaya do’a. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: